KATANYA tidur di kasur ini bisa pulas, pasalnya mimpi kita bisa jadi kenyataan. Membuka mata bisa sesulit mencari pekerjaan di negara ini. Kemarin si Koa tidur di kasur itu sampai dua puluh dua jam dan masih memaksa untuk tidur lagi. Baru kali ini ada yang ketagihan berkelana di dunia mimpi. Ketika ditanya mimpi apa, Koa cuma tersenyum sumringah sambil melanjutkan membaca buku tebalnya bersampul abu-abu disertai gambar serangga, awan, kapal laut dan burung hantu. Harus dipaksa berkali-kali baru Koa mau membeberkan isi mimpinya.
Jadi mimpi Koa dia memiliki sebuah perpustakaan pribadi di sebuah gedung lima lantai. Lantai pertama tentu lobi masuk, berderet meja dengan komputer untuk mendaftar atau berkunjung. Sebelahnya ada ruangan yang berisikan majalah dan tabloid, koleksinya juga mumpuni. Dari majalah anak, keluarga, gaya hidup, berita, umum, gawai, hobi hingga hiburan.
Kemudian lantai kedua untuk buku-buku fiksi, baik dari dalam negeri sampai buku-buku fiksi klasik luar negeri duduk cantik di rak buku raksasa. Berbeda dengan rak buku di kamar Koa, di perpustakaan ini rak buku sampai menyentuh langit-langit. Rak yang mengelilingi satu lantai itu berwarna cokelat mengkilat dan terbuat dari kayu mahoni yang memberikan tampilan elegan serta daya topang yang kokoh. Ruangan ini tentu akan membuat para pembaca buku kelojotan karena terlalu antusias. .
Paling mengejutkan tentu di lantai tersebut ada koleksi buku dari Pramoedya Ananta Toer. Mulai dari buku-buku versi lamanya hingga versi cetak ulang dengan sampul seadanya itu, semua nangkring di rak khusus. Koa sempat menitikkan air mata saat bercerita, karena dalam mimpinya ia membaca buku Keluarga Gerilya cetakan pertama. Koa sempat terdiam dua menit lima belas detik kemudian baru melanjutkan cerita mimpinya.
Bagian tengah lantai dua ada meja panjang serta kursi yang nyaman. Tak ketinggalan ada banyak sofa super empuk berjejer di pojok samping kaca. Cocok untuk pembaca buku introvert. Pengunjungnya juga banyak, mulai dari remaja sampai orang dewasa. Paling mengejutkan semuanya tenang dan tidak rusuh, sungguh khidmat membaca buku di lantai itu.
Kemudian di lantai tiga ada koleksi buku nonfiksi yang bisa dinikmati banyak umur. Tidak kalah gagah, rak bukunya juga mengelilingi seluruh lantai tiga. Dari buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie sampai buku The God Delusion karya Richard Dawkins ada di sana.
Nah untuk lantai empat merupakan ruang multifungsi besar yang bisa disulap untuk pertunjukan seni atau musik, pameran, seminar, komunitas berkumpul atau apapun itu. Dindingnya dilapisi karpet untuk meredam suara dan mengurangi kebisingan. Jika kembali ke mimpi ini lagi, Koa ingin sekali mengadakan diskusi buku dan nonton film bareng.
Lantai lima disulap menjadi rooftop hijau yang dipenuhi berbagai tanaman rindang. Bambu Jepang, palem kuning, lidah mertua, hingga ketapang kencana menghadirkan kerindangan, sementara tanaman merambat seperti lee kwan yew, bougenville, dan sirih gading menghiasi bagian kanopinya. Tidak mengagetkan mendengar Koa dapat menjelaskan jenis-jenis tanaman dengan detail. Walau gemar tidur, otaknya terkenal encer sejak duduk di sekolah dasar. Koa tidak menjelaskan akhir mimpinya bagaimana, yang ku tahu giginya pasti kering karena tersenyum sepanjang bercerita.
“Jadi kamu kapan coba tidur di kasur itu Kun?” Tanya Koa sambil menaruh bukunya dan menyeruput cendolnya.
Aku cuma tersenyum masam sambil mengunyah getuk di mulut.
Keesokannya Kel mencoba kasur itu dan tidur selama lima belas jam. Tak perlu dipaksa, Kel langsung menceritakan mimpinya dengan menggebu-gebu. Di mimpinya ia menjadi seorang direktur kreatif di sebuah perusahaan agensi periklanan. Dia memiliki banyak tim, mulai dari direktur seni, penulis naskah iklan, desainer grafis, desainer motion grafis, editor video, strategis konten, spesialis media sosial, kreator konten, desainer UI/UX, ilustrator, produser, fotografer, videografer, strategis kreatif, hingga desainer junior.
Kel awalnya kewalahan dengan segala urusan meracik kampanye periklanan dari berbagai jenama. Namun karena bidang ini yang membuat obor di hatinya berkobar, jadi ia menjalaninya dengan riang dan penuh semangat. Saat itu dia dan timnya disibukkan dengan pertemuan tukar pikiran kampanye untuk diajukan ke jenama TV pintar. Kel memancing timnya untuk memberikan sepuluh ide dari setiap kepala, mulai dari posisi senior, junior sampai magang semuanya harus menyumbangkan ide.
Ide-ide tersebut dituliskan di papan putih, sehingga semuanya bisa membaca dan nanti akan dipangkas mana yang terbaik dan sesuai dengan objektif yang diinginkan jenama. Target pasar yang diinginkan generasi Z, milenial muda, masyarakat urban, penghuni kos dan apartemen, pasangan muda, penghuni tempat tinggal bersama, pemilik hewan peliharaan hingga penonton aktif layanan streaming.
Dari puluhan ide yang berterbangan di ruangan itu, akhirnya jatuh ke kampanye “Nonton Bareng Keluarga Pilihanmu”, yang mana menonton TV tidak hanya dengan keluarga inti yang ada di rumah. Menonton TV bisa dengan hewan peliharaan, teman komunitas, teman kantor, teman kuliah, teman kosan atau kontrakan, teman dari media sosial dan lain-lain. Kampanye ini diposisikan TV pintar bukan sekadar perangkat elektronik saja, namun juga sebagai “media kebersamaan” dan emosinya lebih kuat daripada menjual spesifikasi.
Ketika sedang sengit melanjutkan detail dan turunan kampanye TV pintar tersebut, salah satu tim pengembangan bisnis mengetuk pintu kaca dan masuk ke ruangan dan membisikkan ke telinga Kel “Mas, orang dari partai rusa belang ngebet banget mau ketemu. Sudah aku sampaikan jadwal mas lagi padat, cuma dia bersikeras minta rapat ide kampanye politik tahun 2029 digodok dari sekarang. Kalau mau urusan izin reklame klien kita lancar kedepannya, dia minta dijadwalkan minggu ini” Ucapnya dengan gugup.
Kel terdiam menatap layar komputer jinjingnya selama dua menit dua puluh satu detik, suara bising timnya yang sedang berdiskusi di ruangan itu lenyap. Saat dia membuka kedua bibirnya untuk merespon, suara alarm di ponselnya menyerang gendang telinga dan dia langsung terbangun. Kel lega tidak harus menjawab permintaan sekaligus ancaman itu. Setelah tertawa-tawa menceritakan mimpinya, saat itu Kel langsung mengacir ke tempat kerjanya di percetakan spanduk, umbul-umbul, brosur, hingga pamflet.
Mendengar cerita Koa dan Kel aku penasaran mencoba kasur ini.
Hari ini giliranku tenggelam di kasur pengabul mimpi ini, namun ada sedikit keraguan untuk tidur di sana. Mimpi terbesarku memancing polemik dan tak pernah aku ungkapkan ke siapapun. Terkadang aku takut sendiri membayangkannya jika mimpi tersebut benar-benar terkabul. Aku menengak air putih segelas penuh, mengenakan kaus kaki, menarik selimut dan langsung berbaring. Aku mencomot nafas dan menghembuskannya beberapa kali untuk menenangkan diri. Ku tutup dua kelopak mata, gelap gulita, otak mulai berlayar jauh. Aku membuka mata dan perasaan ku tidak tentram. Aku kembali mencomot nafas dan menghembuskannya supaya lebih harmoni. Kembali ku tutup kelopak mata, mencoba fokus, tenang dan diriku langsung terpental ke dunia mimpi. Jika biasanya butuh waktu ratusan menit agar bisa terlelap, kali ini terasa mudah.
Suara hatiku berkata “Kun? Kamu yakin ingin menyaksikan mimpimu terwujud?”
Semuanya menyilaukan hingga muncul rumah kecil dengan tembok putih kusam dan dua buah jendela kayu sebelah kanan dan pintu berwarna hitam sebelah kiri. Aku mengingat jelas rumah yang pernah ku datangi semasa kecil. Ku genggam pegangan pintu dan masuk ke ruang tamu yang berisikan dua kursi kayu panjang berukuran satu setengah meter saling berhadapan, dan ada meja kaca pendek di tengahnya, di temboknya ada sebuah lukisan besar letusan gunung Galunggung pada tahun 1982. Ruangan ini selalu menempel di kepalaku hingga sekarang. Di ujung kursi kayu panjang itu ada seorang pria yang duduk dengan mata tertutup, mulut terbekap serta tangan terikat ke belakang. Aku membeku, rasanya jiwaku berkelebat meninggalkan tubuh.
Aku tidak akan pernah bisa melupakan kelakuan jahanam pria tersebut padaku dua puluh tahun yang lalu. Paru-paruku mengembang dan mengempis dengan ritme yang kacau, kakiku menggigil bukan main. Panik menyerang sekujur tubuhku sampai tak tersadar di tangan kananku ada sebuah martil kambing bergagang kayu. Mimpiku benar-benar terkabul, entah aku harus senang atau sedih.
Jakarta, April 2026
Leave a Reply