Category: Cerpen

Cerita pendek cerpen

  • Planet Gato

    SUARA bising dari alat terang yang selalu manusia pegang berbunyi tanpa henti. Tetap dia memeluk selimut dengan damainya, mesti sinar dari langit sudah menerangi jendela. Kadang manusia ku sundul-sundul kakinya, masih saja betah terlelap. Belum lagi dia selalu tergesah-gesah saat mencari barang. Aku cuma  menontonnya sambil tiduran dan menjilat-jilat buluku supaya elok. Sungguh makhluk yang merepotkan. 

    Akhirnya manusia sudah siap untuk berangkat, sementara aku duduk manis menggemaskan dan membiarkan dia memujaku sebelum menutup pintu. “Aku berangkat kerja dulu ya meow, sebentar ko. Kamu jaga rumah, makan sama minum jangan lupa, sampai jumpa nanti Damai” Ucap manusia sambil mencium-cium kepalaku ini. 

    Ya, aku adalah kucing peliharaan, namaku Damai, seekor kucing ragdoll berbulu putih abu-abu. Ketika manusia pergi, aku biasanya tidur siang, makan, berak, dan melihat jendela siapa tahu ada burung. Selalu begitu. 

    Seminggu sekali manusia mengajakku jalan-jalan ke taman supaya tidak bosan, jadi aku bisa berlari-lari. Ingin rasanya mengejar mangsa, namun sulit sekali, tidak ada tupai, tikus, burung ataupun serangga untuk diburu. Bosan juga memburu mangsa di kotak raksasa bercahaya, aku sudah menangkapnya namun hilang terus. 

    Semalam manusia membawa rumah-rumahan kucing ke rumah. Aku sebagai mamalia berdarah panas dan penuh rasa penasaran langsung mengendus benda aneh berbentuk donat berwarna abu-abu itu. Namun hanya sebentar saja, aku kembali rebahan di sofa kesayangan.

    Pagi ini, setelah manusia berangkat aku langsung makan makanan kering, kemudian lanjut tidur pagi. Suara berisik dari luar pintu membangunkanku, terdengar mirip seperti suara bising alat manusia yang terang itu namun lebih nyaring. Entah suara apa, aku tidak tahu, aku kan kucing.  

    Tidur terganggu, aku coba masuk ke dalam rumah-rumahan berbentuk donat itu. Tidak ada yang spesial namun cocok untuk tempat bersembunyi.  Anehnya saat memasukinya, ada titik cahaya terang yang membuat para kucing ingin langsung mengejarnya. Cahaya itu tidak bergerak, aku sibuk mencakar-cakarnya, hingga akhirnya titik cahaya tersebut membesar menjadi sebuah lingkaran terang. 

    Rasa penasaranku bercucuran, aku kembali mengendus dan menengok ke dalam lingkaran terang itu. Sungguh terkejut di dalamnya cerah mencolok, seperti di sebuah taman. Kepalaku celingak-celinguk melihat isinya. Tiba-tiba ada suara besar dan membuatku langsung terjatuh ke dalam  lingkaran terang itu. 

    Sore dan Malam

    Aku terjatuh ke lingkarang terang itu, terombang-ambing dalam kegelapan gulitan dan tiba-tiba berada di bawah pohon besar. Untung saja aku memiliki cakar, jadi lihai saat mendarat.. Saat melihat sekitar, lingkaran terang itu ada di batang pohon paling atas dan perlahan menghilang.  Aku menundukkan badanku dan merasa was-was di tempat baru ini,  ada suara bisik-bisik yang mendekat, dari aromanya sih seperti kucing juga. Aku loncat ke bawah pohon, menunduk di semak-semak dan mengintip siapa yang datang. Sungguh terkejutnya ada dua kucing, yang satu berbulu jingga dan satunya lagi berbulu hitam sedang berjalan ke arahku. 

    “Halo meow, kamu gpp?” Tanya kucing berbulu hitam yang mendekatiku. Mereka kebingungan melihatku bersembunyi di balik rerumputan. 

    “Gpp meow, ini dimana ya?” Aku menjawab sambil berjalan ke kedua kucing asing sembari mengendus-ngendus aroma mereka.

     “Oh sepertinya kamu baru datang ya?” Kucing berbulu jingga bertanya. 

    “Benar, aku bukan berasal dari sini. Aku pun bingung menjelaskannya, aku sedang bermain di dalam rumah-rumahan berbentuk donat, ada lingkaran terang dan saat ku telusuri  nyasar ke sini.”  

    Dua kucing tersebut tersenyum dan tertawa melihat ku.  

    “Jadi tuh kamu ada di…” Ucap kucing berbulu Jingga saat coba menjelaskan namun terpotong karena ada suara petir menyambar dari langit.  Kejanggalan lainnya hadir, tiba-tiba hujan deras turun, namun bukan air yang jatuh melainkan ikan shisamo. Semua kucing di taman itu melotot kegirangan penuh antusias.  Termasuk kucing berbulu jingga dan hitam yang baru kutemui, mereka pun langsung melahap ikan-ikan yang sedap itu di tanah. 

    Penasaran, aku pun memanjat pohon lagi untuk melihat tempat ini lebih luas. Dari atas puncak pohon, yang ku lihat hanya kucing, kucing dan kucing. Mereka asyik menyantap ikan-ikan yang jatuh dari langit. Tempat apa ini? 

    Selesai melahap ikan-ikan, kucing berbulu jingga pun menjelaskan “Halo meow, sini turun, aku Sore, selamat datang di Planet Gato, di mana hanya kucing yang bisa tinggal di sini”. 

    Aku pun turun dari pohon dan bertanya “Jadi tidak ada binatang lain di sini? Bagaimana dengan manusia?” 

    “Tidak ada meow, di sini ya kucing-kucing seperti kita ini saja. Oh iya, namaku Malam, salam kenal ya” Jawab kucing berbulu hitam sambil menjilat-jilat cakarnya karena masih ada sisa-sisa aroma ikan. 

    “Salam kenal meow, namaku Damai. Jadi kalian tau darimana kalau nama tempat ini Planet Gato?” Tanyaku ke Sore dan Malam.  

    “Kami diberitahu kucing yang sudah sampai terlebih dahulu dari sini dan disambut juga. Kita pun pertama kali muncul dari lingkaran-lingkaran terang sepertimu, kalau aku muncul lebih awal dari kotak pasir raksasa, kemudian si Malam muncul dari taman bermain raksasa setelah diriku” Sore menjelaskan kedatangannya di tempat ini.

    Aku yang masih bingung hanya mendengarkan mereka saja. 

    “Bingung ya? Ayo berkeliling, nanti akan ada yang menjelaskannya lebih komplit di Alun-alun.” Ucap Sore yang mengajakku mengenalkan Planet Gato ini. 

    Selamat Datang di Planet Gato

    Aku diajak berkeliling melihat suasana Planet Gato oleh Sore dan malam. Mereka memperlihatkan kotak pasir raksasa di mana para kucing buang kotoran. Kotaknya benar-benar besar, luas sekali, mungkin muat untuk ratusan kucing. Kemudian aku diajak juga melihat terowongan raksasa yang berisi segala macam mainan kucing. Segala mainan kucing yang dibelikan manusia ada di situ, mainan tikus-tikusan, kupu-kupu, burung, semua siap dikejar oleh warga Planet Gato yang ingin bermain. Tentu saja ada tiang untuk mengasah cakar, ada banyak tiang berjejer di sebelah terowongan, tepatnya di taman bermain raksasa. Bola mataku menghitam melihat tempat ini. 

    “Penasaran, apakah manusia yang membangun semua ini?” Tanyaku ke Sore dan Malam. 

    Malam menjawab sambil mengunyah rumput segar di hadapannya “Tidak ada meow, kucing-kucing saja, semua sudah ada, entah siapa yang mengatur ini”. 

    Nah kita sudah sampai di alun-alun Planet Gato” Ucap Sore. Alun-alun lebih luas dari taman bermain raksasa, seperti tempat para kucing berkumpul dengan banyak tempat untuk bersantai. Semuanya melingkar dan di tengah ada patung kucing raksasa sedang duduk imut dengan tulisan Planet Gato di kepalanya. Di dadanya ada pintu masuk otomatis.

    “Nah kita sudah sampai ruang penyambutan, jadi kucing-kucing yang baru tiba wajib mengikuti sambutan selamat datang. Nanti kamu akan dijelaskan menjalani hari-hari di Planet Gato ini, pertanyaan-pertanyaan yang ada di otakmu akan segera terjawab” Ucap Sore. 

    Aku pun berterima kasih ke Sore dan Malam yang sudah menemani saat tiba di Alun-alun. Saat ingin memasuki patung kucing raksasa, aku sempat melihat langit dan merasa ada yang aneh, apa ini hanya perasaanku saja.  

    Sesampainya di dalam, ada meja tanpa kursi dan seekor kucing  sphynx yang menanyakan namaku.

     “Damai” Jawabku. 

    Kemudian ia langsung mencari namaku di alat layar terang dengan logo kepala kucing itu. 

    “Oke, nama Damai, usia 5 tahun, ras ragdoll, nomor induk kucing mu 072025. Letakan  cakarmu di sini” Sambil mengarahkan ku menunjukan cakar ke kotak kaca yang tiba-tiba bersinar. 

    “Jika kamu lupa nomor induk kucingmu, kamu bisa melihatnya di cakar. Angkat saja nanti akan muncul bayangan nomor induknya serta data lainnya. Sekarang ke ruang sambutan, kamu jalan lurus menuju lorong tersebut nanti ada ruangan bertuliskan ruang sambutan warga baru Planet Gato. Selamat datang sekali lagi di Planet Gato”.

    Aku berterima kasih kemudian berjalan ke ruang sambutan. Beberapa kali aku mengangkat cakar untuk memastikan, apakah benar ada bayangan muncul. Ternyata muncul data diri, ada wajah diriku dan nomor induk. Canggih benar tempat ini, rasa-rasanya dunia manusia tidak secanggih ini, tapi aku tahu apa, sehari-hari tinggal di dalam rumah saja. 

    Sampai lah aku di depan ruang sambutan, pintu otomatis pun terbuka dan sungguh terkejut melihat isinya. Ruangan tersebut berisi rumah-rumah kucing dari kayu, di mana ada banyak kotak bolong, jembatan, panjatan, ayunan, apapun itu yang bisa buat kucing nangkring dan leyeh-leyeh. Tentu aku langsung bergegas ke kotak bolong yang agak tinggi, supaya bisa memantau ke segala arah. Aku melihat warga baru lainnya, kucing-kucing langsung bergegas mencari tempat favoritnya dan lupa kalau kita harus menonton pengenalan Planet Gato. Siapa sih yang membuat tempat ini? Mana mungkin kucing bisa fokus menyaksikan ini. 

    Layar raksasa muncul dari bawah dan terpampang tinggi di bagian tengah ruangan. Muncul suara menggelegar dan berkata “Selamat datang di Planet Gato meow”. Hanya sebagian kucing yang memperhatikan, sisanya sibuk tidur siang, berguling-guling dan bermain. Hingga muncul sinar titik merah yang mengelilingi layar raksasa itu. Tak perlu berlama-lama. Semua kucing terpancing dan langsung memandang layar tersebut, termasuk diriku.  

    Kemudian pengumumannya berbunyi seperti ini:

    Selamat datang warga baru Planet Gato, tempat dimana para kucing bisa bermain, santai, dan hidup damai selama-lamanya

    Jika lapar akan ada hujan ikan tiga kali dalam sehari, pilihan ikannya bermacam-macam

    Jika haus bisa minum di aliran sungai yang mengelilingi planet ini 

    Jika ingin buang kotoran atau kencing bisa  di kotak pasir raksasa

    Jika ingin bermain bisa ke terowongan dan taman bermain raksasa 

    Jika mengantuk bisa ke kasur raksasa yang hangat dan nyaman 

    Jika tersesat bisa periksa cakar masing-masing akan ada Meow-peta, mengeong tiga kali untuk aktivasi

    Jika merasa kurang enak badan bisa ke Meow-sehat, lokasi di sebelah alun-alun ini

    Jika ingin mencari tahu segala hal bisa ke pusat Meow-komputer, lokasi sebelah alun alun ini juga

    Jika ada saran atau keluhan bisa menyampaikannya di kotak Meow-lapor yang berlokasi di depan alun-alun Planet Gato

    Sekian pengumumannya, sekali lagi selamat datang di Planet Gato. Salam meow meow meow! 

    Mochi 139 

    Selesai mengikuti penyambutan aku langsung buru-buru mencari kotak pasir raksasa karena ingin buang kotoran. Aku celingak-celinguk dan teringat bisa pakai Meow-peta, tapi belum aku aktifkan. Tadi katanya mengeong tiga kali ya. “Meow meow meow” aku mengeong ke cakar dan muncul bayangan dan suara “Halo Damai meow, mau kemana hari ini?” ucap bayangan tersebut. 

    “Aku mau ke kotak pasir raksasa, di mana?” Saut ku sambil muka merengut karena sudah tidak tahan buang kotoran. “Oke, berikut rute kotak pasir raksasa dan akan muncul jejak cakar merah menuju ke sana” Jawab bayangan itu. Aku langsung lari secepat saudara sepupu ku cheetah mengikuti jejak itu.

    Sampai lah aku ke kotak pasir raksasa, benar-benar luas dan pasir semua. Ada beberapa kucing yang sedang mengejan, aku pun ikut bergabung dan mulai berkonsentrasi.

    “Pluk pluk pluk” lega juga dalam hati. Setelah itu aku kubur kotorannya supaya aman dari pemangsa. Tersadar tidak ada hewan lain di sini, tak apalah sudah kebiasaan. Saat loncat keluar dari kotak pasir raksasa tiba-tiba ada sinar terang di galian kotoranku. Aku menengok sebentar dan melihat sudah hilang. Benar-benar ajaib. 

    Niatku ingin mencari Sore dan Malam, mungkin mereka ada di taman bermain raksasa. Aku pun berjalan ke sana sambil melihat langit di Planet Gato ini, sungguh indah, awannya begitu putih, bahkan ada awan yang berbentuk ikan dan burung yang dikejar-kejar kucing. Andai saja ada burung yang bisa aku buru di planet ini.

    “Gedubrak”  aku menabrak kucing lain karena asyik melihat langit. “Hiiiiiiissssssssss” kucing berbulu kembang telon itu mendesis ke aku karena tak sengaja ku tabrak. “Hisssssssssss” aku pun membalas desisannya. Untuk beberapa waktu yang lama kita saling mendesis hingga akhirnya dia kelelahan. “Sudah ah capek meow, kamu jalan hati-hati dong” Ucap kucing itu.  “Maaf meow, aku baru di sini, tadi sedang melihat langit.” Jawabku sambil ngos-ngosan setelah mendesis kelamaaan.  

    “Oh kamu baru, aku pun baru sampai ke Planet Gato. Kenalin namaku Mochi 139, namamu siapa?” Tanya kucing berbulu kembang telon. “Aku Damai, namamu ada nomornya?” tanya ku ke Mochi 39 sambil menahan tertawa.

    “Jangan mengejek, manusia yang memberikan namaku Mochi, karena banyak kucing yang diberikan nama itu  dan saat sampai ke sini aku yang ke-139” 

    “Namamu Damai, artinya apa? Di sini nama paling banyak Oreo, Milo, Snowy, Luna, dan  Tom” Tanya Mochi 139 

    “Aku tidak tahu artinya, aku kan cuma kucing. Oh iya berarti namaku Damai pertama yang masuk Planet Gato ini ya” Sambil pasang wajah girang. 

    “Kamu mau kemana?  Rebahan di taman bermain, ngantuk  waktunya tidur siang, sembari nunggu hujan ikan berikutnya” Mochi 139 mengajak ku sambil menguap dan berjalan ke arah taman. 

    Ada pohon rindang di taman bermain raksasa, Mochi 139 langsung memanjat dan mencari tempat nyaman untuk tidur siang di dahan terdekat. Aku pun menyusulnya duduk menggemaskan di dahan lebih tinggi dari Mochi 139. Melihat suasana sekitar begitu damai, pelan-pelan merebahkan kepalaku dan mataku mulai sayu. 

    Hujan Ikan Tongkol 

    Langit berubah warna menjadi jingga, aku terbangun dan melihat Mochi 139 masih tertidur dengan posisi memamerkan perutnya. Aku turun dari pohon untuk mencari aliran sungai untuk minum.  Di sana aku kembali bertemu Sore dan Malam. “Damai, bagaimana penyambutan mu tadi?” Tanya Sore yang ramah. Sementara Malam masih menjilat-jilat air di aliran sungai.  

    “Lancar, tadi aku juga bertemu teman baru namanya Mochi 139. Cuma rasanya aneh dan aku masih punya banyak pertanyaan tentang tempat ini” Jawabku sambil menjilat-jilat air sungai yang segar bukan main. 

    “Pertanyaan apa?” Tanya Malam yang selesai minum kemudian sambil membersihkan bulu kakik, perut, selangkangan dengan lidahnya. 

    “Aku merindukan manusia, apakah dia mencariku? Planet Gato ini tempat apa? Bisakah aku pulang ke manusia”  Jawabku dengan tatapan serius. 

    “Apakah kalian tidak merindukan manusia?” Tanya ku ke Sore dan Malam. 

    Sore dan Malam saling tatap dengan ekspresi kucing yang ingin dimandikan. Malam menjawab “Kita tidak dipelihara manusia, kita kucing jalanan.”.  

    Sore langsung jalan ke arah ku “Iya, kita tidak dipelihara manusia, kita mencari makan sendiri, di jalanan, di tempat sampah, di rumah orang, jika beruntung  ada manusia yang lalu lalang yang memberikan makanan” Jawab Sore.

    Aku yang terkejut bukan main, baru tahu ada kucing yang tinggal di luar rumah. Bagaimana mereka tidur, kemudian kalau hujan air mereka berteduh dimana ? Sungguh aku tidak peka dan berperikekucingan, malah sibuk mengeluh.  

    “Maaf ya Sore dan Malam, aku tidak tahu” Ucapku dengan menyesal.

    “Santai. Oh iya mungkin sebaiknya kita cari tahu bersama di Meow-komputer tentang manusiamu. Siapa tahu ada jawabannya”  Usul Sore.  

    Saat berjalan kaki ke lokasi Komputer-meow di dekat alun-alun Planet Gato, Malam berjalan pelan dan berbisik ke Sore “Kenapa kamu tidak memberitahu yang sebenarnya sih ke Damai?”.  

    “Hush, jangan kencang-kencang. Aku tidak tega, sebaiknya dia cari tahu sendiri kalau sebenarnya kita berada di nirwana para kucing.” Jawab Sore suaranya semakin pelan. 

    Damai menengok ke belakang penasaran  “Kalian sedang bahas apa?”

    Sore yang kaget bergegas maju berjalan ke samping Damai “Si Malam berharap hujan ikan tongkol, dia sangat suka ikan itu meow.”

    Mereka pun tertawa terbahak-bahak sembari sinar di langit mulai menghilang perlahan. 

    Tri Wahyudi, 2025

  • Kasuari Mimpi Terbang

    KREEEEK suara pintu besi digeser oleh seorang tante pemilik kontrakan dan disusul anak laki-laki berusia 10 tahun yang tergesa-gesa masuk ke dalam teras rumah kontrakan layaknya soang. Tante pemilik kontrakan tertawa melihat tingkah anak kecil itu dengan semangatnya memasuki rumah kontrakan 2 kamar tidur di daerah Jakarta Timur mepet Jakarta Pusat itu. 

    “Dodo pelan-pelan, tar kepeleset, tar diomelin tantenya tuh” Ucap ibu Dodo dengan muka cemasnya sambil membenarkan tas jinjingnya. Tante pemilik kontrakan tertawa sambil jalan ke depan pintu dan mengajak ibu dan Dodo masuk.  “Bagus ya, masih ada teras dan taman kecil di depannya” kata ibu Dodo ke tante pemilik kontrakan sambil memeriksa jendela dan pintu kontrakan tersebut.  “Iya Bu, jarang-jarang kan ada kontrakan seperti ini, lumayan lega” jawab tante pemilik kontrakan sambil membuka pintu depan kontrakan dengan kunci.

    Dodo langsung masuk dan sibuk mencari calon kamarnya nanti, apakah luas dan muat untuk meletakkan buku, mainan, serta barang-barangnya. Dodo terpana melihat kamar utamanya “Wih Dodo suka nih ada jendelanya, jadi gak pengap kaya kamar kita sekarang ya bu”. Ibu Dodo pun penasaran dan bergegas memeriksa kamar utamanya “Haha iya bener, kalo yang ini sirkulasi udaranya bagus” ucap ibu sambil melihat langit-langit kamar tersebut sembari naikin alis matanya, berharap tidak perlu direnovasi jika menempati rumah ini karena budget-nya terbatas. 

    Dodo dan ibunya tinggal di kontrakan 1 kamar tidur yang lokasinya tidak jauh dari kontrakan yang sedang mereka survey. Setelah mencoba berjualan asinan secara daring, Ibu berhasil mengumpulkan pundi-pundi sehingga keuangan mereka pun menjadi lebih stabil. Maka dari itu, Ibu berniat untuk mencari kontrakan baru yang lebih luas untuk usahanya ditambah Dodo ingin memiliki kamarnya sendiri. 

    Setelah cek kamar utama, Ibu dan Dodo berkeliling memeriksa ruangan lainnya, mulai dari kamar kedua untuk Dodo, ruang tamu yang luas memanjang ke belakang, ujungnya ada area dapur, Ibu pun sudah terbayang akan memberikan sekat kayu rotan supaya dari pintu masuk tidak terlihat dapur. Kemudian ke arah kamar mandi yang cukup luas dan terakhir pintu belakang yang ada secomot area untuk menjemur pakaian.

    Ibu pun mengajak tante pemilik kontrakan pun membicarakan uang sewa, berapa biaya tahunannya, apakah bisa dicicil atau tidak. Obrolannya itu biasanya membuat Ibu memijat keningnya. Sementara itu Dodo masih betah melihat-lihat calon kamarnya.  Tidak sebesar kamar utama, di sana cukup nyaman dan Dodo sudah membayangkan kasurnya akan menghadap kemana, meja belajarnya diletakan di mana, hingga posisi rak buku-buku kesayangannya.

    Saat melihat ke arah pojok kamar, ada sebuah buku usang tergeletak. Dodo pun mengangkat buku itu dengan perlahan meniup dan mengusap debunya supaya tidak terlalu bikin batuk. 

    Halaman pertama ada gambar burung kasuari yang lehernya berwarna biru terang dan di bawahnya bertuliskan Kasuari Mimpi Terbang. Judul bukunya terdengar menarik dan memicu rasa penasaran Dodo. Tanpa berpikir panjang, Dodo langsung duduk manis bersila di lantai kamar tersebut dan mulai membaca buku tersebut.

    Kasuari Mimpi Terbang

    Di dalam lebatnya hutan hujan Papua ada seekor burung Kasuari yang sedih dan cemberut di bawah pohon rindang. “Jahat sekali Cendrawasih, memangnya kenapa kalo aku gak bisa terbang” Ucap Kasuari sambil menenangkan diri. 

    Sebelumnya kasuari pernah mencoba untuk terbang, dia berjalan ke pijakan batu tinggi dan mengepakan kedua sayapnya untuk terbang. Tidak berhasil terbang malah terjatuh berguling-guling di tanah. Tak menyerah, kadang kasuari lari sekencang-kencangnya sambil melatih kedua sayapnya, namun sayap menabrak pohon dan luka-luka. 

    Muncul Dingiso (kangguru pohon) sambil memeluk batang pohon saat mendengar Kasuari mengeluh “Kamu kenapa?”

    Kasuari langsung menengok ke atas pohon “Eh kamu, ini Cendrawasih mengejekku lagi karena tidak bisa terbang”  sambil cakarnya mengorek-ngorek tanah karena kesal. “Terus memangnya kenapa kalau tidak bisa terbang? Aku pun tidak bisa” jawab Dingiso ke Kasuari. “Ya aku kesal saja, aku kan burung punya sayap, kenapa tidak bisa terbang. Kadang aku suka bermimpi terbang loh” nada Kasuari yang semakin sedih. 

    “Tak apa tidak bisa terbang Kasuari, tubuhmu tinggi dan berlari cepat” ucap Dingisio sambil memanjat pohon celingak-celinguk mencari makan. “Iya benar juga ya” Kasuari kembali ceria dan melihat kedua kakinya yang jenjang dan kuat. “Aku juga dengar dari kawananku, kalau Kasuari berjasa besar di hutan hujan Papua ini” lanjut Dingiso. 

    “Benarkah? Tanya Kasuari yang semakin antusias 

    Dingiso pun menjelaskan mengapa Kasuari berjasa di hutan ini. Kasuari memakan bulat-bulat aneka buah yang jatuh di lantai hutan. Biji yang ikut tertelan kemudian keluar bersama kotoran dan Kasuari selalu berkeliling hutan ini. Biji dari kotoran Kasuari itu tersebar di hutan itu nantinya akan tumbuh jadi aneka pohon dan memenuhi seluruh pulau Papua. Tanpa kehadiran kasuari, hutan hujan Papua barangkali tidak selebat seperti sekarang. 

    “Wah ternyata aku sangat berjasa ke hutan ini ya” Kasuari terharu dan semakin ceria

    “Benar, jadi jangan terlalu memikirkan kekurangan kamu dan hiraukan ucapan Cendrawasih, fokuslah dengan kelebihan kamu Kasuari” 

    “Benar, mulai sekarang aku tidak mau memikirkan celotehan Cendrawasih, terima kasih banyak loh Dingiso, oh iya kamu tuh beruang atau kanguru sih?” Kasuari bertanya ke Dingiso

    “Aku kangguruuuuuuuuuuuuuuuu” Dingiso teriak dengan kesal

    “Hehe, maaf maaf” Kasuari langsung buru-buru kabur 

    Kasuari yang sudah kembali riang dan bergegas keliling hutan hujan Papua mencari makanan favoritnya, buah dan biji-bijian yang jatuh dari pepohonan

    Laron Penasaran 

    Suatu malam saat hujan mulai redah, muncul laron-laron, mereka sibuk berterbangan mencari-cari sumber cahaya untuk mencari pasangan. Namun ada satu Laron yang kebingungan dan enggan memburu lampu yang bersinar. Dia termenung dan memikirkan mengapa hidup laron hanya semalam saja, bagaimana kalau dia bermimpi keliling Indonesia, bagaimana kalau dia ingin belajar banyak hal, bagaimana kalau dia ingin mengenal serangga lain ataupun binatang lain. Beragam pertanyaan muncul di dalam diri laron, apakah dia harus mengikuti instingnya mencari pasangan ke arah lampu atau mengikuti kata hatinya untuk bertualang. 

    Kebetulan rombongan laron lainnya sedang menyatroni lampu terang di sebuah teras rumah. Laron yang satu ini tidak berpartisipasi melainkan hinggap di pintu besi dan terlintas di pikirannya untuk terbang melihat-lihat suasana sekitar. Tak tertarik dengan cahaya terang, laron yang penasaran terbang ke teras rumah sebelah dan melihat seekor kucing jingga sedang tertidur pulas berbentuk roti tawar di atas kursi kayu. Penasaran laron mendarat ke atas hidung kucing itu, “kamu ini binatang apa?” Ucap laron sambil naik turun di hidung kucing. 

    Kucing berbadan tambun itu pun mulai membuka mata dan mengelap hidungnya dengan kakinya, laron dengan cekatan menghindar dan berkata “hey hati-hati dong!”. Kucing mulai terbangun, bola matanya membesar dan mulai mengejar-ngejar laron di udara dengan tangannya. Laron yang panik terbang lebih tinggi supaya bisa menghindar  “hentikan, aku hanya ingin berteman!”. Kucing itu pun berhenti, duduk manis penuh kharisma dan mulai menjilat-jilat dirinya sambil berkata “Kamu tersasar laron? Bukannya kamu harus mengejar cahaya terang dan mencari pasangan?”.

    “Tidak, aku ingin mencari tahu banyak hal” Laron sambil hinggap di sandaran tangan kursi kayu mencoba berbicara dengan kucing. Kucing terheran-heran sambil tersenyum mencurigakan  “Kamu laron yang unik ya, baiklah kamu ingin tahu apa?”. Laron semakin antusias dan bertanya “Pertama-tama coba jelaskan kamu binatang apa dan kegiatanmu sehari-hari apa?”. Dengan ekspresi ketus kucing menjawab dirinya seekor kucing, mamalia karnivora. Kegiatan sehari-hari tidur, menjilati diri supaya tetap bersih, mencakar-cakar pintu atau sofa, dan mengeong ke manusia supaya diberikan makanan. Laron yang menyimak bertanya “Kenapa kamu mengeong ke manusia?”. Kucing pun menjelaskan “Karena aku adalah hewan peliharaan, manusia menyediakan makananku, jadi jika lapar ngeong dan senggol-senggol saja ke kaki mereka”. 

    “Enak juga jadi seekor kucing ya, semua kucing begitu kah?” tanya laron

    “Tidak semuanya, ada beberapa kucing liar yang kurang beruntung, mereka tidak punya tempat tinggal dan kadang mengais-ngais tempat sampah” jawab kucing

    “Berarti kamu beruntung ya” Laron menjawab sambil terbang ke tubuh kucing 

    “Begitulah” sang kucing menjawab sambil menguap lebar 

    “Aku penasaran, apa yang terjadi jika laron berhasil mencari pasangan?” Tanya kucing

    “Oh itu, laron yang berhasil menggaet pasangan, mereka akan menanggalkan sayap dan berjalan mencari lubang di bawah tanah untuk kawin dan bertelur.  Nah bagi yang gagal mendapatkan pasangan, akan hidup hanya satu malam saja, dan kemudian mati ketika fajar datang” jawab laron

    Kucing kaget dan bertanya “Jadi kamu tidak ingin mencari pasangan, berarti besok…..”

    “Iya benar, aku ingin mencari tahu banyak hal, sebelum waktunya” jawab laron

    “Shiro masuk udah malem, pintu mau dikunci” terdengar suara manusia dari dalam rumah. 

    “Manusia sudah memanggilku, aku masuk ke dalam dulu ya. Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari sampai fajar datang. Senang berteman denganmu laron walau cuma sekejap.” Kucing mengucapkan selamat tinggal ke laron sambil masuk ke dalam rumah. 

    Laron pun terbang ke luar rumah mencari ilmu dan teman baru sambil menanti matahari datang. Akan menjadi malam yang panjang bagi laron. 

    Komodo Kesepian

    Di pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur ada seekor komodo yang melata-lata mencari makan siang. Bisa babi liar, rusa, kalau beruntung bisa melahap kerbau, namun sepi sekali. Mereka pasti sembunyi, kemana ya mereka. 

    Hingga akhirnya menuju senja, ada babi hutan yang diterkam dan berakhir di mulut sang komodo. Setelah kenyang melahapnya, komodo melihat ke arah laut dimana matahari bergegas untuk terbenam. Terlintas di pikirannya “Sepertinya akan asyik jika aku memiliki teman di pulau ini”. 

    Komodo yang kesepian itu maju perlahan ke arah deburan ombak. Rasanya janggal tinggal di pulau yang indah namun sendirian. Komodo tidak punya siapa-siapa di sana, sekalinya ada binatang lain, itu menjadi santapan ia sehari-hari.

    Keesokannya saat komodo sedang tertidur di tanah dengan damai, ia mendengarkan suara bising. Ternyata ada segerombolan manusia yang sibuk menyaksikannya sedang pulas di tanah. Seorang manusia berbadan tambun berkata “Komodonya ko tidur doang? Bangunin dong!”. Sementara manusia yang satunya ada melempar-lempar batu kerikil, tetap saja Komodo tidur tak memperdulikan manusia yang bawel-bawel itu. 

    Sang pemandu wisata Komodo pun menjelaskan fakta-fakta seputar Komodo “Nah bapak-ibu, Komodo memiliki lidah yang panjang, bahkan bisa mencapai setengah panjang tubuhnya. Lidah ini dapat mendeteksi bau dari jarak jauh, mirip dengan ular. Kemudian Gigitan komodo membawa kerusakan pada tubuh mangsanya, mulai dari kerusakan pada kulit, kelenjar, otot, pembuluh darah serta saraf, dan jaringan dengan racun yang dihasilkan kelenjar racun yang terletak dekat tulang rahang bawah.”

    Komodo pun tetap memejamkan mata. 

    Beberapa manusia yang ikut tur itu terlihat terpukau oleh penjelasan pemandu wisata, sisanya lagi ingin melihat Komodo yang sedang santai-santai supaya segera bergerak. Manusia kurus lainnya mencoba mencolek-colek komodo dengan batang kayu panjang, hingga akhirnya Komodo mulai membuka matanya dan menoleh dan berkata dalam hati “Untung saja kemarin aku sudah makan babi hutan, kalau tidak aku kejar kau”. 

    Komodo akhirnya membuka mata dan beranjak ke tempat lain mencari tempat istirahat membelakangi para manusia. Segerombolan manusia malah antusias memotret serta merekam sang komodo yang sudah bangun dan bergerak menjauhi mereka. 

    Walau Komodo selalu merasa kesepian, tanpa dia sadari selalu ada manusia dengan beragam tingkah yang berbondong-bondong mengunjunginya setiap harinya. 

    Bekantan Panik

    Hutan mangrove di taman wisata alam pulau Bakut di Banjarmasin, Kalimantan Selatan ditinggali kawanan bekantan. Dalam kawanan ada bekantan yang sedang panik dan merasa tidak tenang apalagi kalau ada pengunjung manusia. Sebelumnya, hutan mangrove rumah lama bekantan tersebut pernah digusur dan diserbu pemburu. Untungnya bekantan panik dan kawanan lainnya berhasil kabur, hingga akhirnya diselamatkan manusia baik ke pulau Bakut ini.  

    Biasanya yang bekantan takuti ular piton, macan dahan, dan kucing hutan, kini melihat manusia yang datang beramai-ramai. Bekantan panik itu resah bukan main dan sibuk bersembunyi. Sang pemimpin kawanan bekantan berkata “Tenang, kita sudah aman, manusia baik telah menyelamatkan dan membawa kita ke hutan ini”

    “Tapi aku masih tidak tenang, tetap saja ada perasaan tidak percaya dengan para manusia-manusia ini” jawab bekantan panik sambil menunjuk ke arah rombongan manusia yang sedang wisata ke hutan bakau Pulau Bakut. 

    Dari kejauhan ada anak manusia yang memperhatikan bekantan dari jembatan kayu dan bertanya ke orang tuanya “Ayah, kenapa hidung bekantan besar ya?”. Ayahnya tertawa sambil menjawab “Ayah kurang tau, tanya mas pemandu wisata sini ya”. 

    Sang pemandu pun menjelaskan hidung bekantan yang besar berfungsi sebagai ruang gema yang memperkuat suara mereka. Hidung besar bekantan itu membantu mereka berkomunikasi di lingkungan hutan bakau yang padat. Selain itu, hidung besar bekantan jantan dapat mengeluarkan suara serendah dan sekeras mungkin untuk menarik perhatian bekantan betina. 

    Bekantan panik dan kawanan lainnya memperhatikan deretan manusia di ranting-ranting daun. Sang pemimpin kawanan bekantan “Lihat mereka hanya sedang bersantai melihat pemandangan hutan mangrove di sini, tidak membahayakan kita”. 

    “Benar sih, tidak ada yang menyerang atau membawa kandang ya” jawab Bekantan panik 

    “Kalau pun ada bahaya, aku akan menginformasikan kawanan ku ini ke kalian dengan segera, jangan lupa tarik nafas dan hembuskan supaya lebih  tenang dan rasa panik hilang” ucap pemimpin kawanan bekantan sambil memanjat ke dahan pohon lebih tinggi.

    Perasaan trauma bekantan akan selalu ada namun mereka harus tetap melanjutkan hidup “ungkap pemimpin kawanan bekantan sambil mengunyah daun rambai laut di ranting pohon. Zaman sudah berubah, populasi manusia semakin banyak, hutan mangrove banyak yang  digusur dan mau tidak mau kita harus hidup berdampingan dengan manusia ini. 

    Harimau Sumatera Sembunyi 

    Di dalam hutan yang pekat, ada dua harimau Sumatera berlari kencang menjauh dari manusia jahat yang mencoba memburu mereka. 

    “Lari kak buru, itu ada gua, sembunyi di sana!” teriak harimau Sumatera ke kakaknya  sembari lari tergesa-gesa

    “Semoga kita aman bersembunyi dalam sini ya” Kakak harimau ngos-ngosan di dalam gua sempit yang tertutup lebatnya dedaunan

    “Kenapa manusia bisa mencapai area ini ya? Ini kan sudah pedalaman kak “Adik harimau Sumatera mengatur nafas setelah berlari kabur dari para pemburu

    “Kakak juga gatau, harusnya area hutan ini bebas dari manusia. Untung saja tembakan mereka meleset ya”

    “Kenapa kita tidak melawan sih kak? Mereka kan lemah” tanya sang adik

    “Iya mereka lemah, namun mereka memiliki peralatan lengkap untuk menangkap kita, kamu lupa ibu pas itu ditangkap oleh jaring. Pesan ibu menyuruh kita lari secepatnya dan cari tempat persembunyian.”

    “Maaf kak, aku lelah dengan tingkah manusia, mereka sudah merampas lahan hewan-hewan di hutan ini yang luas, namun masih saja menelusuri dan berburu kita sampai ke pedalaman” Adik harimau Sumatera mengeluh. 

    “Setidaknya kita sudah aman, aku tak mendengar tanda-tanda mereka, cahaya terang dari langit pun sudah pergi” 

    “Sebentar kak, aku mendengar sesuatu dari luar”

    KRESEK KRESEK KRESEK 

    “Ah, itu cuma Binturong melompat dari dahan pohon” ucap kakak harimau Sumatera

    “Bikin panik saja, oke berarti sudah aman kita bisa keluar dan lanjut berburu” jawab adik harimau Sumatera 

    Kakak adik harimau Sumatera masih lapar karena sudah berhari-hari mereka belum makan, di hutan semakin sulit mencari mangsa, dikarena manusia dengan serakah merampas lahan-lahan di hutan. 

    “Kemana lagi ya kita harus mencari mangsa, babi hutan sudah jarang, rusa pun hilang entah kemana” Kakak harimau Sumatera berjalan sembari mengendus-ngendus sekitar

    “Iya, dengar-dengar dari musang, di sekitar rumah manusia ada kambing dan sapi, apa kita kesana kak? Tanya adik sambil berjalan di belakang sang kayak

    “Kita habis lolos dari para manusia, malah ke sarang mereka, kamu mau ditangkap!” jawab sang kakak 

    “Baiklah, ayo kita coba menyeberangi sungai itu, barang kali ada babi hutan gendut yang tersesat”

    “Nah gitu dong, pokoknya kita harus semangat dan tak boleh menyerah, kita ini harimau Sumatera yang tangguh” Ucap kakak harimau Sumatera sambil memimpin jalan

    Kakak adik harimau Sumatera yang saling menjaga itu kembali menelusuri pedalaman hutan untuk mencari mangsa supaya bisa bertahan hidup. 

    SELESAI membaca Dodo tersenyum, menutup buku dan menatap cover depan dan belakang buku tersebut “Ini  Kemudian terdengar suara Ibu memanggilnya dari depan teras rumah.

    “Do? Ayo pulang, udah sore” 

    Bisa pas sekali, Dodo langsung bergegas keluar dari kamar tersebut dan bertanya ke ibunya “Bu, emang Laron cuma hidup semalam aja ya bu?”

    “Maksudnya gimana Do?”

    “Ini loh bu, aku nemu buku judulnya Laron Penasaran”

    “Itu punya siapa? Coba tanya tantenya, minta izin dulu, siapa tahu ada yang punya” tanya Ibu

    Tante pemilik kontrakan menjawab “Oh ada buku ya, kayaknya milik penyewa sebelumnya Do, gpp kamu simpan aja, soalnya pemiliknya pindah ke luar negeri kalo nggak salah.”

    “Beneran? Asyik, makasih banyak tante” ucap Dodo ke tante sambil tersenyum

    “Bu jawab pertanyaan Dodo yang tadi” 

    “Oh iya, ibu kurang tau, cuma nanti kita coba cari tahu bareng ya, kita pamitan dulu sama tantenya ya”

    “Bu makasih udah boleh lihat kontrakannya, ini saya pikirkan dulu, nanti kalau jadi saya bakal kontak ibu lagi” ucap Ibu Dodo ke tante pemilik kontrakan sambil bersalaman.

    “Sama-sama bu, kontak aja nanti” Tante sambil mengunci pintu rumah.

    “Bu, bu, Dodo mau lihat burung Kasuari langsung deh, ada gak ya di Ragunan?” Dodo bertanya lagi sambil keluar pagar rumah kontrakan tersebut.

    “Kayaknya ada deh, atau nanti hari Minggu kita ke sana deh.”

    “Asyikkkkk” Dodo loncat kegirangan. 

    Tangan kiri Dodo menggenggam buku tersebut dan tangan kanan menggenggam tangan ibu dan bergegas untuk pulang.  

    Tri Wahyudi, 2024