Tag: Planet Gato

  • Planet Gato

    SUARA bising dari alat terang yang selalu manusia pegang berbunyi tanpa henti. Tetap dia memeluk selimut dengan damainya, mesti sinar dari langit sudah menerangi jendela. Kadang manusia ku sundul-sundul kakinya, masih saja betah terlelap. Belum lagi dia selalu tergesah-gesah saat mencari barang. Aku cuma  menontonnya sambil tiduran dan menjilat-jilat buluku supaya elok. Sungguh makhluk yang merepotkan. 

    Akhirnya manusia sudah siap untuk berangkat, sementara aku duduk manis menggemaskan dan membiarkan dia memujaku sebelum menutup pintu. “Aku berangkat kerja dulu ya meow, sebentar ko. Kamu jaga rumah, makan sama minum jangan lupa, sampai jumpa nanti Damai” Ucap manusia sambil mencium-cium kepalaku ini. 

    Ya, aku adalah kucing peliharaan, namaku Damai, seekor kucing ragdoll berbulu putih abu-abu. Ketika manusia pergi, aku biasanya tidur siang, makan, berak, dan melihat jendela siapa tahu ada burung. Selalu begitu. 

    Seminggu sekali manusia mengajakku jalan-jalan ke taman supaya tidak bosan, jadi aku bisa berlari-lari. Ingin rasanya mengejar mangsa, namun sulit sekali, tidak ada tupai, tikus, burung ataupun serangga untuk diburu. Bosan juga memburu mangsa di kotak raksasa bercahaya, aku sudah menangkapnya namun hilang terus. 

    Semalam manusia membawa rumah-rumahan kucing ke rumah. Aku sebagai mamalia berdarah panas dan penuh rasa penasaran langsung mengendus benda aneh berbentuk donat berwarna abu-abu itu. Namun hanya sebentar saja, aku kembali rebahan di sofa kesayangan.

    Pagi ini, setelah manusia berangkat aku langsung makan makanan kering, kemudian lanjut tidur pagi. Suara berisik dari luar pintu membangunkanku, terdengar mirip seperti suara bising alat manusia yang terang itu namun lebih nyaring. Entah suara apa, aku tidak tahu, aku kan kucing.  

    Tidur terganggu, aku coba masuk ke dalam rumah-rumahan berbentuk donat itu. Tidak ada yang spesial namun cocok untuk tempat bersembunyi.  Anehnya saat memasukinya, ada titik cahaya terang yang membuat para kucing ingin langsung mengejarnya. Cahaya itu tidak bergerak, aku sibuk mencakar-cakarnya, hingga akhirnya titik cahaya tersebut membesar menjadi sebuah lingkaran terang. 

    Rasa penasaranku bercucuran, aku kembali mengendus dan menengok ke dalam lingkaran terang itu. Sungguh terkejut di dalamnya cerah mencolok, seperti di sebuah taman. Kepalaku celingak-celinguk melihat isinya. Tiba-tiba ada suara besar dan membuatku langsung terjatuh ke dalam  lingkaran terang itu. 

    Sore dan Malam

    Aku terjatuh ke lingkarang terang itu, terombang-ambing dalam kegelapan gulitan dan tiba-tiba berada di bawah pohon besar. Untung saja aku memiliki cakar, jadi lihai saat mendarat.. Saat melihat sekitar, lingkaran terang itu ada di batang pohon paling atas dan perlahan menghilang.  Aku menundukkan badanku dan merasa was-was di tempat baru ini,  ada suara bisik-bisik yang mendekat, dari aromanya sih seperti kucing juga. Aku loncat ke bawah pohon, menunduk di semak-semak dan mengintip siapa yang datang. Sungguh terkejutnya ada dua kucing, yang satu berbulu jingga dan satunya lagi berbulu hitam sedang berjalan ke arahku. 

    “Halo meow, kamu gpp?” Tanya kucing berbulu hitam yang mendekatiku. Mereka kebingungan melihatku bersembunyi di balik rerumputan. 

    “Gpp meow, ini dimana ya?” Aku menjawab sambil berjalan ke kedua kucing asing sembari mengendus-ngendus aroma mereka.

     “Oh sepertinya kamu baru datang ya?” Kucing berbulu jingga bertanya. 

    “Benar, aku bukan berasal dari sini. Aku pun bingung menjelaskannya, aku sedang bermain di dalam rumah-rumahan berbentuk donat, ada lingkaran terang dan saat ku telusuri  nyasar ke sini.”  

    Dua kucing tersebut tersenyum dan tertawa melihat ku.  

    “Jadi tuh kamu ada di…” Ucap kucing berbulu Jingga saat coba menjelaskan namun terpotong karena ada suara petir menyambar dari langit.  Kejanggalan lainnya hadir, tiba-tiba hujan deras turun, namun bukan air yang jatuh melainkan ikan shisamo. Semua kucing di taman itu melotot kegirangan penuh antusias.  Termasuk kucing berbulu jingga dan hitam yang baru kutemui, mereka pun langsung melahap ikan-ikan yang sedap itu di tanah. 

    Penasaran, aku pun memanjat pohon lagi untuk melihat tempat ini lebih luas. Dari atas puncak pohon, yang ku lihat hanya kucing, kucing dan kucing. Mereka asyik menyantap ikan-ikan yang jatuh dari langit. Tempat apa ini? 

    Selesai melahap ikan-ikan, kucing berbulu jingga pun menjelaskan “Halo meow, sini turun, aku Sore, selamat datang di Planet Gato, di mana hanya kucing yang bisa tinggal di sini”. 

    Aku pun turun dari pohon dan bertanya “Jadi tidak ada binatang lain di sini? Bagaimana dengan manusia?” 

    “Tidak ada meow, di sini ya kucing-kucing seperti kita ini saja. Oh iya, namaku Malam, salam kenal ya” Jawab kucing berbulu hitam sambil menjilat-jilat cakarnya karena masih ada sisa-sisa aroma ikan. 

    “Salam kenal meow, namaku Damai. Jadi kalian tau darimana kalau nama tempat ini Planet Gato?” Tanyaku ke Sore dan Malam.  

    “Kami diberitahu kucing yang sudah sampai terlebih dahulu dari sini dan disambut juga. Kita pun pertama kali muncul dari lingkaran-lingkaran terang sepertimu, kalau aku muncul lebih awal dari kotak pasir raksasa, kemudian si Malam muncul dari taman bermain raksasa setelah diriku” Sore menjelaskan kedatangannya di tempat ini.

    Aku yang masih bingung hanya mendengarkan mereka saja. 

    “Bingung ya? Ayo berkeliling, nanti akan ada yang menjelaskannya lebih komplit di Alun-alun.” Ucap Sore yang mengajakku mengenalkan Planet Gato ini. 

    Selamat Datang di Planet Gato

    Aku diajak berkeliling melihat suasana Planet Gato oleh Sore dan malam. Mereka memperlihatkan kotak pasir raksasa di mana para kucing buang kotoran. Kotaknya benar-benar besar, luas sekali, mungkin muat untuk ratusan kucing. Kemudian aku diajak juga melihat terowongan raksasa yang berisi segala macam mainan kucing. Segala mainan kucing yang dibelikan manusia ada di situ, mainan tikus-tikusan, kupu-kupu, burung, semua siap dikejar oleh warga Planet Gato yang ingin bermain. Tentu saja ada tiang untuk mengasah cakar, ada banyak tiang berjejer di sebelah terowongan, tepatnya di taman bermain raksasa. Bola mataku menghitam melihat tempat ini. 

    “Penasaran, apakah manusia yang membangun semua ini?” Tanyaku ke Sore dan Malam. 

    Malam menjawab sambil mengunyah rumput segar di hadapannya “Tidak ada meow, kucing-kucing saja, semua sudah ada, entah siapa yang mengatur ini”. 

    Nah kita sudah sampai di alun-alun Planet Gato” Ucap Sore. Alun-alun lebih luas dari taman bermain raksasa, seperti tempat para kucing berkumpul dengan banyak tempat untuk bersantai. Semuanya melingkar dan di tengah ada patung kucing raksasa sedang duduk imut dengan tulisan Planet Gato di kepalanya. Di dadanya ada pintu masuk otomatis.

    “Nah kita sudah sampai ruang penyambutan, jadi kucing-kucing yang baru tiba wajib mengikuti sambutan selamat datang. Nanti kamu akan dijelaskan menjalani hari-hari di Planet Gato ini, pertanyaan-pertanyaan yang ada di otakmu akan segera terjawab” Ucap Sore. 

    Aku pun berterima kasih ke Sore dan Malam yang sudah menemani saat tiba di Alun-alun. Saat ingin memasuki patung kucing raksasa, aku sempat melihat langit dan merasa ada yang aneh, apa ini hanya perasaanku saja.  

    Sesampainya di dalam, ada meja tanpa kursi dan seekor kucing  sphynx yang menanyakan namaku.

     “Damai” Jawabku. 

    Kemudian ia langsung mencari namaku di alat layar terang dengan logo kepala kucing itu. 

    “Oke, nama Damai, usia 5 tahun, ras ragdoll, nomor induk kucing mu 072025. Letakan  cakarmu di sini” Sambil mengarahkan ku menunjukan cakar ke kotak kaca yang tiba-tiba bersinar. 

    “Jika kamu lupa nomor induk kucingmu, kamu bisa melihatnya di cakar. Angkat saja nanti akan muncul bayangan nomor induknya serta data lainnya. Sekarang ke ruang sambutan, kamu jalan lurus menuju lorong tersebut nanti ada ruangan bertuliskan ruang sambutan warga baru Planet Gato. Selamat datang sekali lagi di Planet Gato”.

    Aku berterima kasih kemudian berjalan ke ruang sambutan. Beberapa kali aku mengangkat cakar untuk memastikan, apakah benar ada bayangan muncul. Ternyata muncul data diri, ada wajah diriku dan nomor induk. Canggih benar tempat ini, rasa-rasanya dunia manusia tidak secanggih ini, tapi aku tahu apa, sehari-hari tinggal di dalam rumah saja. 

    Sampai lah aku di depan ruang sambutan, pintu otomatis pun terbuka dan sungguh terkejut melihat isinya. Ruangan tersebut berisi rumah-rumah kucing dari kayu, di mana ada banyak kotak bolong, jembatan, panjatan, ayunan, apapun itu yang bisa buat kucing nangkring dan leyeh-leyeh. Tentu aku langsung bergegas ke kotak bolong yang agak tinggi, supaya bisa memantau ke segala arah. Aku melihat warga baru lainnya, kucing-kucing langsung bergegas mencari tempat favoritnya dan lupa kalau kita harus menonton pengenalan Planet Gato. Siapa sih yang membuat tempat ini? Mana mungkin kucing bisa fokus menyaksikan ini. 

    Layar raksasa muncul dari bawah dan terpampang tinggi di bagian tengah ruangan. Muncul suara menggelegar dan berkata “Selamat datang di Planet Gato meow”. Hanya sebagian kucing yang memperhatikan, sisanya sibuk tidur siang, berguling-guling dan bermain. Hingga muncul sinar titik merah yang mengelilingi layar raksasa itu. Tak perlu berlama-lama. Semua kucing terpancing dan langsung memandang layar tersebut, termasuk diriku.  

    Kemudian pengumumannya berbunyi seperti ini:

    Selamat datang warga baru Planet Gato, tempat dimana para kucing bisa bermain, santai, dan hidup damai selama-lamanya

    Jika lapar akan ada hujan ikan tiga kali dalam sehari, pilihan ikannya bermacam-macam

    Jika haus bisa minum di aliran sungai yang mengelilingi planet ini 

    Jika ingin buang kotoran atau kencing bisa  di kotak pasir raksasa

    Jika ingin bermain bisa ke terowongan dan taman bermain raksasa 

    Jika mengantuk bisa ke kasur raksasa yang hangat dan nyaman 

    Jika tersesat bisa periksa cakar masing-masing akan ada Meow-peta, mengeong tiga kali untuk aktivasi

    Jika merasa kurang enak badan bisa ke Meow-sehat, lokasi di sebelah alun-alun ini

    Jika ingin mencari tahu segala hal bisa ke pusat Meow-komputer, lokasi sebelah alun alun ini juga

    Jika ada saran atau keluhan bisa menyampaikannya di kotak Meow-lapor yang berlokasi di depan alun-alun Planet Gato

    Sekian pengumumannya, sekali lagi selamat datang di Planet Gato. Salam meow meow meow! 

    Mochi 139 

    Selesai mengikuti penyambutan aku langsung buru-buru mencari kotak pasir raksasa karena ingin buang kotoran. Aku celingak-celinguk dan teringat bisa pakai Meow-peta, tapi belum aku aktifkan. Tadi katanya mengeong tiga kali ya. “Meow meow meow” aku mengeong ke cakar dan muncul bayangan dan suara “Halo Damai meow, mau kemana hari ini?” ucap bayangan tersebut. 

    “Aku mau ke kotak pasir raksasa, di mana?” Saut ku sambil muka merengut karena sudah tidak tahan buang kotoran. “Oke, berikut rute kotak pasir raksasa dan akan muncul jejak cakar merah menuju ke sana” Jawab bayangan itu. Aku langsung lari secepat saudara sepupu ku cheetah mengikuti jejak itu.

    Sampai lah aku ke kotak pasir raksasa, benar-benar luas dan pasir semua. Ada beberapa kucing yang sedang mengejan, aku pun ikut bergabung dan mulai berkonsentrasi.

    “Pluk pluk pluk” lega juga dalam hati. Setelah itu aku kubur kotorannya supaya aman dari pemangsa. Tersadar tidak ada hewan lain di sini, tak apalah sudah kebiasaan. Saat loncat keluar dari kotak pasir raksasa tiba-tiba ada sinar terang di galian kotoranku. Aku menengok sebentar dan melihat sudah hilang. Benar-benar ajaib. 

    Niatku ingin mencari Sore dan Malam, mungkin mereka ada di taman bermain raksasa. Aku pun berjalan ke sana sambil melihat langit di Planet Gato ini, sungguh indah, awannya begitu putih, bahkan ada awan yang berbentuk ikan dan burung yang dikejar-kejar kucing. Andai saja ada burung yang bisa aku buru di planet ini.

    “Gedubrak”  aku menabrak kucing lain karena asyik melihat langit. “Hiiiiiiissssssssss” kucing berbulu kembang telon itu mendesis ke aku karena tak sengaja ku tabrak. “Hisssssssssss” aku pun membalas desisannya. Untuk beberapa waktu yang lama kita saling mendesis hingga akhirnya dia kelelahan. “Sudah ah capek meow, kamu jalan hati-hati dong” Ucap kucing itu.  “Maaf meow, aku baru di sini, tadi sedang melihat langit.” Jawabku sambil ngos-ngosan setelah mendesis kelamaaan.  

    “Oh kamu baru, aku pun baru sampai ke Planet Gato. Kenalin namaku Mochi 139, namamu siapa?” Tanya kucing berbulu kembang telon. “Aku Damai, namamu ada nomornya?” tanya ku ke Mochi 39 sambil menahan tertawa.

    “Jangan mengejek, manusia yang memberikan namaku Mochi, karena banyak kucing yang diberikan nama itu  dan saat sampai ke sini aku yang ke-139” 

    “Namamu Damai, artinya apa? Di sini nama paling banyak Oreo, Milo, Snowy, Luna, dan  Tom” Tanya Mochi 139 

    “Aku tidak tahu artinya, aku kan cuma kucing. Oh iya berarti namaku Damai pertama yang masuk Planet Gato ini ya” Sambil pasang wajah girang. 

    “Kamu mau kemana?  Rebahan di taman bermain, ngantuk  waktunya tidur siang, sembari nunggu hujan ikan berikutnya” Mochi 139 mengajak ku sambil menguap dan berjalan ke arah taman. 

    Ada pohon rindang di taman bermain raksasa, Mochi 139 langsung memanjat dan mencari tempat nyaman untuk tidur siang di dahan terdekat. Aku pun menyusulnya duduk menggemaskan di dahan lebih tinggi dari Mochi 139. Melihat suasana sekitar begitu damai, pelan-pelan merebahkan kepalaku dan mataku mulai sayu. 

    Hujan Ikan Tongkol 

    Langit berubah warna menjadi jingga, aku terbangun dan melihat Mochi 139 masih tertidur dengan posisi memamerkan perutnya. Aku turun dari pohon untuk mencari aliran sungai untuk minum.  Di sana aku kembali bertemu Sore dan Malam. “Damai, bagaimana penyambutan mu tadi?” Tanya Sore yang ramah. Sementara Malam masih menjilat-jilat air di aliran sungai.  

    “Lancar, tadi aku juga bertemu teman baru namanya Mochi 139. Cuma rasanya aneh dan aku masih punya banyak pertanyaan tentang tempat ini” Jawabku sambil menjilat-jilat air sungai yang segar bukan main. 

    “Pertanyaan apa?” Tanya Malam yang selesai minum kemudian sambil membersihkan bulu kakik, perut, selangkangan dengan lidahnya. 

    “Aku merindukan manusia, apakah dia mencariku? Planet Gato ini tempat apa? Bisakah aku pulang ke manusia”  Jawabku dengan tatapan serius. 

    “Apakah kalian tidak merindukan manusia?” Tanya ku ke Sore dan Malam. 

    Sore dan Malam saling tatap dengan ekspresi kucing yang ingin dimandikan. Malam menjawab “Kita tidak dipelihara manusia, kita kucing jalanan.”.  

    Sore langsung jalan ke arah ku “Iya, kita tidak dipelihara manusia, kita mencari makan sendiri, di jalanan, di tempat sampah, di rumah orang, jika beruntung  ada manusia yang lalu lalang yang memberikan makanan” Jawab Sore.

    Aku yang terkejut bukan main, baru tahu ada kucing yang tinggal di luar rumah. Bagaimana mereka tidur, kemudian kalau hujan air mereka berteduh dimana ? Sungguh aku tidak peka dan berperikekucingan, malah sibuk mengeluh.  

    “Maaf ya Sore dan Malam, aku tidak tahu” Ucapku dengan menyesal.

    “Santai. Oh iya mungkin sebaiknya kita cari tahu bersama di Meow-komputer tentang manusiamu. Siapa tahu ada jawabannya”  Usul Sore.  

    Saat berjalan kaki ke lokasi Komputer-meow di dekat alun-alun Planet Gato, Malam berjalan pelan dan berbisik ke Sore “Kenapa kamu tidak memberitahu yang sebenarnya sih ke Damai?”.  

    “Hush, jangan kencang-kencang. Aku tidak tega, sebaiknya dia cari tahu sendiri kalau sebenarnya kita berada di nirwana para kucing.” Jawab Sore suaranya semakin pelan. 

    Damai menengok ke belakang penasaran  “Kalian sedang bahas apa?”

    Sore yang kaget bergegas maju berjalan ke samping Damai “Si Malam berharap hujan ikan tongkol, dia sangat suka ikan itu meow.”

    Mereka pun tertawa terbahak-bahak sembari sinar di langit mulai menghilang perlahan. 

    Tri Wahyudi, 2025